“CATATAN SANG SAHABAT”
Acha dan Tasya itulah nama dari 2 sahabat sejati, yang sudah saling kenal sejak di SD. Mereka tinggal di suatu daerah yang tidak jauh dari Pusat Kota Jakarta. Rumah mereka berjarak hanya hampir selangkah saja. Karena sudah lama bersahabat, mereka sudah saling kenal dan sudah saling mengerti serta memahami satu dengan yang lainnya. Sekarang mereka sudah kelas 3 SMP. Kedua sahabat sejati ini bersekolah di School Rich 1 Jakarta. Persahabatan mereka sudah dikenal oleh banyak orang di daerahnya. Bukan juga hanya di sekitar daerah mereka, bahkan pun di dunia internet, seperti facebook dan twitter, nama mereka sudah tidak lazim lagi untuk terpampang di jendela facebook dan twitter.
Banyak facebooker yang menggemari Acha dan Tasya walau hanya lewat facebook. Notification dan friend request pada facebook Acha dan Tasya, tidak pernah 1 atau 10 saja. Palingan 88 ataupun 98 sekian. Commented on your status, like your status, commented on your photos, llike your photos dan yang paling banyak adalah posted something on your wall. Hal-hal tersebut buat mata Acha dan Tasya kelilipan. Tapi, hal-hal itu tidak membuat sifat mereka menjadi tinggi hati atau sombong. Mereka tetap memandang semua orang sama derajat atau disebut tidak milih-milih teman.
Acha memiliki satu hobby yang memang sangat menempel dengan hidupnya yaitu catatan. Apa yang terjadi, apa yang dia lakukan dan alami, selalu tercatat dalam catatannya itu. Di depan catatannya, sudah tertulis sebaris kalimat yang berkata “CATATAN SANG SAHABAT.”
Acha dan Tasya selalu ke sekolah barengan, pulang barengan, shopping barengan, hang out barengan, apapun serba barengan, eitss, tapi jangan negative thinking dulu! Mereka mandinya nggak barengan kok ..
Kebiasaan Acha dan Tasya yaitu saat petang hari, dua gadis remaja ini, senang sekali menyaksikan moment dimana matahari mulai terbenam.
***
Saat itu matahari sudah mulai menyembunyikan diri di ufuk Barat. Tiba waktunya bagi Acha dan Tasya untuk melangkahkan kaki ke sebuah tebing di dekat rumah mereka.
“Huhh, sungguh menyenangkan yah hari ini, menyaksikan matahari terbenam bersama kamu sahabat karibku,” puji Acha. “Ia yah, ini merupakan hal yang paling berhaga dalam masa hidupku, jangan lupa loh dicatat di buku catatanmu!” sahut Tasya.
Waktu terus bergulir mengiringi pembicaraan kedua sahabat sejati ini. Berjalannya waktu, membuat mereka tidak sadar bahwa saat itu sudah menunjukan pukul 06.30. Itulah saatnya bagi mereka untuk kembali kerumah masing-masing. Diperjalanan tak luput pula dari perbincangan. “Tasya, aku punya satu kenalan loh buat aku kenalin ma kamu! Namanya Dave. Ia tinggal di kompleks sebelah, tepatnya dekat Greenly Garden. Tapi satu yang harus kamu tahu, ia itu pacar aku yang baru kemarin jaian. heheheh , maaf yah aku lupa beri tahu kamu, soalnya aku masih malu ma kamu, kata Acha. “Huh? Really? Oiya deh, gak apa-apa, kalo kamu seneng aku juga seneng kok, tapi kalo ia macem-macem, biar aku labrak orangnya! Eh iya, jangan lupa kenalin ke aku yah! ” tegas Tasya. “Okelah, ia gak bakalan sakiti aku kok, orangnya super duper romantis plus baik hati. Umm, sip, tapi tunggu waktu yang tepat yah! ” sahut Acha.
Mereka langsung membuka pintu rumah mereka masing-masing, dan segera masuk ke dalam rumah. Acha langsung mengambil makanan, belajar, dan tidur. Tapi, sebelum tidur, ia tak lupa menulis kejadian di hari itu, tidak lain di buku catatan seorang sahabat. Saat itu, Acha langsung tidur dengan pulas dan dengan nyenyak. Detik, menit, jam terus bertambah dan bertambah.
***
Kini malam sudah berganti pagi. Matahari sudah kembali menampakan cahayanya dari ufuk Timur. Jret ... jret ... jret .. jret ... Beker Acha sudah berdering keras di samping telinganya tepat pada pukul 05.00 subuh, membuat Acha untuk segera bangun dan sadar dari semua mimpinya. Saat Acha terbangun, ia segera bersiap-siap untuk kesekolah. Setelah siap, Acha langsung pamit kepada kedua orang tuanya. Setelah itu, ia langsung kerumah Tasya, yang berjarak hanya selangkah saja. “Yuhuu, anybody home? Tasya, come on!” teriak Acha. Semenit setelah Acha memanggil Tasya, akhirnya Tasya keluar dari kamar. Kaos kaki panjang, rok diatas lutut, rambut yang diikat berantakan, serta tangan yang dilingkari jam tangan, membuat mereka siap kesekolah bersama.
Sesaat di mana mereka berada diperjalanan, mereka selalu menyapa dan memberi salam pada semua orang yang mereka jumpai pagi itu dengan senyum manis. Setelah sekitar sejam, akhirnya mereka tiba disekolah. Acha dan Tasya langsung menuju ke kelas mereka. Tengtong .. tengtong .. Lonceng untuk jam pertama pelajaran dimulai. Tak lama kemudian, guru Biology, yakni Bapak. Jhony Subdiono tiba-tiba masuk. “Stand up please! Greeting!” perintah ketua kelas “Good morning sir!!!” salam dari anak-anak kelas 8-1 IPA. Jam pelajaran biology berlangsung selama 3 jam. Acha dan Tasya mengikuti pelajaran biology dengan cermat dan dengan teliti. 3 jam mata pelajaran biology kini usai. Tibanya mereka untuk istirahat. Acha dan Tasya, langsung mengisi perut mereka yang sudah keroncongan dengan seporsi Bakso Special di kantin sekolah.
Ketika perut mereka sudah terisi penuh, Acha dan Tasya langsung menuju ke kelasnya. Lonceng kembali berbunyi, menandakan jam pelajaran ke 4 dimulai. Dua sahabat ini, terus mengikuti jam pelajaran seperti biasanya. Menulis dengan lengkap, mendengar dengan mata melotot dan mulut ternganga, membuat mereka bisa mengerti dan memahami semua materi yang diberikan guru-guru disekolah mereka. Itu membuat hasil raport mereka tidak pernah berada dibawah 80. Orang tua mereka, selalu bangga dan selalu senang dengan smua hasil kerja keras Acha dan Tasya. Udah cantik, pandai, baik hati lagi. Kurang apa sih mereka itu? Tapi emang sih tetap aja ada kalimat yang berkata no body’s perfect.
Tak lama kemudian, jam pelajaran hari itu usai. Acha dan Tasya pun langsung bergegas untuk keluar kelas dan segera kembali ke rumah mereka.
Setibanya mereka dirumah, mereka langsung beristirahat sejenak, untuk menyegarkan kembali otak mereka, yang sudah panas dan hampir berasap itu, agar mereka bisa melakukan kegiatan-kegiatan lainnya, dengan baik dan teliti. Setelah Acha bangun dari tidurnya, ia langsung mengambil catatan pribadinya yang selalu ia letakkan di bawah bantalnya. Itu bertanda bahwa ia akan menulis kegiatan yang ia lewati bersama sahabatnya, Tasya. Sekitar 1-2 jam ia menulis dan menggambarkan semua kejadian pada hari itu. Setelah ia membaginya dengan buku catatan itu, ia langsung melanjutkan dengan belajar. Ia belajar dengan tekun dan dengan cermat, untuk masa depannya yang cerah. Selain ia pandai didalam pendidikan sekolahnya, Acha pun selalu menjaga hubungan dan sikapnya dalam bermasyarakat. Ia selalu suka menolong dan membantu orang sekelilinya. Dalam hidupnya, ia tidak pernah berkelahi dengan siapapun apalagi menyimpan dendam dengan berhari-hari. Baginya, berbuat baik dalam kehidupan itu adalah suatu hal terpuji dan hal yang beradab pada agama, jadi ia tidak pernah menyia-nyiakan hidupnya untuk tidak berbuat baik. Sejak ia kecil, ayah dan ibunya sudah membiasakan dan menanamkan tentang berbuat baik pada semua orang. Yah, cara Acha dan Tasya tidak beda jauh.
Jarum jam terus berjalan begitu cepat, sehingga menunjukan tepat pada waktu dimana Acha dan Tasya harus pergi melihat persembunyian matahari di ufuk Barat. “Tasya, Tasya, yuk ketempat biasa!” Panggil Acha. “Iya, iya, bentar kok!” Jawab Tasya dengan suara nyaring dari arah kamarnya. Setelah itu, mereka berdua siap untuk menuju ke tebing, dimana tempat untuk Acha dan Tasya menyaksikan terbenamnya matahari.
Ketika mereka tiba di tebing, Acha dan Tasya langsung me-record moment berharga saat petang hari itu. Mereka sangat tenang berada di situ, karena di temani oleh bunga-bunga indah, warna-warni, dan sangat harum, rumput hijau yang empuk, di mana tempat untuk menidurkan kepala mereka. Ditambah lagi dengan angin sepoi-sepoi, yang selalui menciptakan lambaian helaian rambut dari Acha dan Tasya.
Menghiasi pengamatan keindahan ciptaan Tuhan untuk makhluk hidup, Acha dan Tasya saling bercanda riang. Mereka saling melawak, membuat mulut mereka berdua terbuka lebar untuk tertawa dengan sekencang-kencangnya, agar disaksikan oleh matahari. “Tik ... kitik ... kitikk .. kitikk” Acha pun tiba-tiba menggelitik Tasya. “Wuahahaha ..” tawa Tasya dengan keras, membuat Acha terkejut. Saling menggelitik, saling bercanda-tawa, saling tertawa lebar, itulah yang membuat mereka terus bersama-sama dalam hidup mereka. Tapi ternyata semua itu dirusak oleh sesuatu yang sangat disayangkan. Tiba-tiba ..
Bibir merah manis Acha, terganti warna putih pucat, dan hidung mancung Acha mengeluarkan tetesan darah. “Acha!!! Kenapa hidung kamu, cha? Apa yang terjadi sama kamu?” Tanya panik Tasya. “Oh, tidak kok, palingan hanya mimisan doang, kamu nih, jangan khawatir gitu dong!” Jawab santai Acha.
Dengan santai Acha menjawab pertanyaan panic dari Tasya, sahabat karibnya. Itu adalah pertama kalinya Acha merasakan hal buruk itu. Tapi, sangat tidak berpengaruh pada hari-hari Acha saat bersama teman-temannya, sahabat sejatinya, ibu-ayahnya, dan siapapun, tapi just at that time.
Karena Tasya sudah takut dan panik, Tasya memaksa Acha untuk segera kembali kerumah. “Cha, ayo kita balik, kamu harus perlu istirahat banyak, kalau besok lo masih merasa lemah, sebaiknya jangan dulu kesekolah, nanti deh aku yang ngajarin kamu sepulang sekolah! Iyaya??” Tanya paksa dari Tasya. “Iya iya, nanti di lihat besok aja deh! Aku gak rasa keganggu juga kok! Yuk balik!” Ajak Acha.
Saat mereka dirumah, mereka sudah bersiap untuk membaringkan badan mereka di kasur empuk. Tapi, sebelum Acha tidur, ia merasa heran, mengapa kejadian itu harus terjadi disaat moment terindah ia dan sahabatnya berlangsung, dan selama ia hidup, itu adalah kejadian pertama yang dialami Acha, yang tak pernah ia bayangkan. Tapi, karena ia tidak mau ambil pusing, ia hanya tersenyum dan terus menatap dinding kamarnya dengan senyum manisnya. Kejadian itu pun ia tulis di catatannya kehidupannya, seperti biasa. Selesai ia menulis kejadian itu di catatannya, ia pun langsung tertidur pulas. Malam yang indah itu, ia bermimpi bahwa ia mengidap sebuah penyakit. Tapi penyakit itu hanya sebuah tanda tanya dalam mimpinya. Hanya seperti penyakit rahasia, yang belum saatnya diketahui oleh Acha. Tapi, di mimpi malam indah saat itu, menggambarkan dengan jelas bahwa penyakit yang ia alami itu adalah penyakit berbahaya, yang bahkan bisa merenggut nyawa bagi pengidap! “TIDAKKKKK!!!!!!!” Tiba-tiba, Acha berteriak dengan kencang karena kaget dengan mimpinya itu. Iya terbangun dengan wajah yang di basahi keringat. Ia langsung duduk sejenak di tempat tidurnya, ia langsung menutup matanya dan mengunci tangannya, bersiaplah ia untuk berdoa. Setelah ia berdoa, ia kembali membuka catatanya itu, dan menulis semua alur cerita mimpinya. Sesudah itu, ia kembali melanjutkan tidurnya dengan tenang.
Malam terganti pagi, bulan terganti matahari, langit hitam terganti warna putih cerah. Beker Acha, berbunyi keras, membangunkan Acha, untuk segera bersiap ke sekolah. Mereka berdua belajar seperti biasanya, dan ketika lonceng pulang sekolah berbunyi, Acha dan Tasya kembali ke rumah.
Saat mereka tiba dirumah mereka masing-masing yang berjarak hanya selangkah saja, Acha berpesan agar pada pukul 07.00 malam nanti, ia akan memperkenalkan pacar barunya kepada sahabatnya itu. “Tasya, ntar malem jam 07.00, kamu datang kerumah ku yah, aku pengen ngajak kamu ke taman buat memperkenalkan itutu,, tau kan?” Tanya Acha dengan senyum memanja. “Huh? Apaan sih kamu? Aku gak ngerti nih! Emang itu apanya? Maklum, aku agak pikun, jadi apa sih?” Tanya bingung dari Tasya. “Astaga naga ular naga,, itutu pacar aku tuh, kamu ini kok bisa lupa si?” Balas Acha dengan wajah muram dengan kening yang berkerut. “Oh iya yah, maaf banget yah Cha, aku udah lupa sih, iya iya deh, nanti aku mampir kerumahmu deh!” Teriak Tasya.
Saat pukul 06.45 malam, Tasya pun segera bergegas ke rumah Acha. “Acha .. Acha .. Acha .. Yuk brangkat!” Panggil Tasya. “Ayo!” Acha pun menjawabnya. Mereka segera menuju ke taman di mana pacar Acha dan Acha janjian untuk bertemu.
***
Pada pukul 07.00, mereka berdua akhirnya tiba di taman. Dan ketika mereka tiba di taman, Acha memperkenalkan pacarnya ke Tasya. “Hai! Namaku Dave, kamu?” Tanya Dave. “Aku Tasyalenfert, panggil saja Tasya, sahabat karibnya Acha.” Jawab Tasya. “Oh, nice to meet you!” Sahut Dave.
Sejak saat itu Dave dan Tasya sudah saling kenal dan makin lama, mereka sudah sangat akrab. Suatu hari, Dave mengajak Tasya untuk hang out ke Mall. Tapi, Tasya pengennya pergi sama Acha. Karena “DIMANA ADA ACHA DISITU PASTI ADA TASYA!” Saat mereka di Mall, mereka langsung ke sebuah restaurant SOLARIA. Saat mereka sedang makan, tiba-tiba dikejutkan dengan hidung Acha yang mengeluarkan darah yang sangat banyak. “Acha !!!! Hidung kamu tuh, kenapa berdarah?” tanya Acha. Saat itu pula, Acha langsung bercermin dan terkejut, saking takutnya Acha, tiba-tiba ia jatuh pingsan di restaurant itu. Dave dan Tasya sangat panic dan takut. Mereka segera membawa Acha ke rumah sakit terdekat.
Diperjalanan mereka ke Rumah Sakit, Tasya sempat berpikir heran, mengapa hidung Acha sudah berdarah 2 kali dalam minggu ini, dengan waktu yang tidak berjarak jauh? Ia sangat heran dan takut sekali. Tasya terus berpikir dan berpikir, sampai tidak terasa mereka sudah tiba di Rumah Sakit terdekat.
Saat mereka tiba, Acha langsung dimasukkan ke ruang ICU dan para medis segera menangani Acha dengan tanggap. Sekitar 6 jam lamanya, tiba-tiba dokter yang menangani Acha, keluar dari ruangan ICU. Tak hitung detik, Dave dan Tasya, langsung mendesak dokter dan bertanya bagaimana keadaan dari Acha. Dokter pun langsung menjawab pertanyaan dari Acha dan Dave. “Teman kalian, mengidap penyakit Leukimia, yaitu penyakit di mana si pengidap mengalami kanker darah atau kekurangan darah merah. Itu penyakit sangat berbahaya, bahkan bisa merenggut nyawa!” Hanya singkat tapi jelas jawaban dokter yang menangani Acha. Sedih dan rapuhnya Tasya ketika mendengar semua itu, ia langsung terduduk diam, dan matanya pun langsung mengeluarkan air mata yang sangat banyak. Ia menangis tersedu-sedu dengan wajah yang sangat muramSaat dokter itu berpaling dari hadapan Dave dan Tasya, tiba-tiba kedua orang tua dari Acha dan Tasya datang di Rumah Sakit, dan menanyakan keadaan Acha.
“Bagaimana keadaan Acha, Tas? Baik kan?” Tanya ibunya Acha. “Enggak bu! Keadaannya buruk, ia mengidap penyakit leukemia ” Jawab Tasya. “Apa??” Teriak ibunya Acha. Saking sedih dan takutnya ibu Acha, ia langsung jatuh pingsan dan lama untuk menyadarkan diri.
Ketika Acha siuman, ia meminta catatan pentingnya, yang tak pernah luput dari tangannya. Ayahnya pun segera memberikan catatan itu padanya. Ia langsung menulis semua kejadian itu. Sementara ia menulis dan mencurahkan semua kejadian hari itu di catatannya, tiba-tiba setetes air mata jatuh dari mata bulatnya, jatuh tepat di tulisan Acha.
Sejak saat itu, hari-hari Acha, sudah seperti bunga yang perlahan-lahan layu karena tidak lagi di beri air untuk kelangsungan hidupnya. Wajah cantik dan merah Acha, kini sudah berganti seperti warna kain putih. Hari-harinya sudah tidak lagi seperti biasanya. Ia sudah sering terjatuh pingsan, hidung mancungnya sudah sering mengeluarkan darah yang membuat banyak orang menangis dan ikut prihatin. Perobatannya sudah sampai ke Singapore. Ia sudah mengkonsumsi banyak obat-obat dokter yang keras untuk menyembuhkan penyakit leukimia nya. Tapi itu tidak berfungsi! Itu semua mengkaitkan lagi salah satu organ dalam tubuh Acha, yaitu ginjal! Akhirnya, ia mengindap menyakit yang di ! Akhirnya, ia mengindap menyakit yang di sebut komplikasi. Waktu-waktunya sudah semakin pendek, tapi semua itu tetap saja tercatat dalam catatannya. Sampai akhirnya, Acha meninggal saat Ia sedang menulis pesan dan kesan di catatannya itu. Ia meninggal akibat penyakit yang ia alami itu.
Saat acara pemakamannya, semua orang yang Acha kenali dan yang mengenal Acha, hadir untuk belasungkawa atas sepeninggalnya Acha gadis cantik, baik hati, sabar, dan setia itu. Semua mata hanya bisa memberi air mata dan tangisan yang merengek, seakan tidak mengingini kepergian Acha ke tempat lain, tapi itulah takdir. Di facebook, sudah terdapat begitu banyak orang yang mengucapkan selamat tinggal dan belasungkawa terhadap sepeninggalnya Acha pada tanggal 16 February 2010.
***
Setelah sekitar 1 minggu Acha meninggal, Tasya kini sudah tidak pernah lagi menyaksikan moment di mana matahari akan menyembunyikan dirinya dengan berdua. Kini ia hanya sendiri, dan di temani dengan sebuah buku catatan seorang sahabatnya yaitu Acha.
Tapi, pada setiap kegiatan yang Tasya lakukan, selalu teringat pada sahabat karibnya itu. Ia selalu berkunjung ke makam sahabat nya dan berbagi cerita dengan sahabatnya itu. “Cha, aku kangen kamu, Cha, aku pengen liat matahari terbenam bersamamu, Cha. Temani aku Cha, ku mohon.” Kalimat tersebut keluar dari mulut Tasya sambil ia mengusap air matanya yang terus keluar itu. Kini Tasya berubah menjadi gadis peniam, lugu dan pemurung sejak sepeninggalnya sahabatnya itu.
Saat Acha meninggal, Tasya terus membawa catatan Acha itu kemana pun Tasya pergi dan berada. Karena menurut Tasya, buku catatan Acha itu melambangkan kehadiran sosoknya yang sangat berharga untuk nama dan diri seorang Tasya. Saking dekat dan lengketnya Tasya dengan catatan sahabatnya yang bernama Acha, tidak sangat disangka bahwa penyakit yang ialami Acha, bisa tertular ke tubuh Tasya. Kini Tasya mengalami penyakit leukemia, dan ia tidak pernah memberi tahukannya kepada orang-orang sekelilingnya. Dan saat ia sedang membaca catatan Acha, tiba-tiba tubuhnya sudah mulai melemah dan matanya sudah mulai terlelap dan akhirnya tertutup untuk selama-lamanya.
***
Paginya, saat beker Tasya berbunyi keras, Tasya tidak juga terbangun. Sampai akhirnya, ibu Tasya pergi ke kamar Tasya, dan segera membangunkannya. “Ahhh!!! Oh, no! Ayah!!” Teriak ibunda Tasya. Ternyata Tasya didapati dikamarnya dengan keadaan yang sudah dingin dan tubuhnya sudah agak mengeras dan bibir merahnya sudah putih pucat dengan darah di hidungnya.
Tasya menyusul kepergian sahabatnya itu dengan tangisan dari banyak orang. Dan banyak orang merasa sangat kehilangan dan kesepian, atas sepeninggalnya Acha pada tanggal 16 February 2010 dan Tasya pada tanggal 26 February 2010. Sungguh menyedihkan! Dan kini catatan dari seorang sahabat itu di simpan di kamar Acha, tepatnya di bawah bantal, yang kini sudah berdebu dan sudah tidak terawat.
Mungkin mereka berdua sudah tenang di alam sana, dan mereka berdua, selalu menyaksikan moment di mana matahari terbenam, dari atas sana, surga namanya. Ternyata, catatan seorang sahabat itu sungguh mencerminkan hal yang baik dan bisa menggambarkan watak dan sosok seorang sahabat yang meninggalkan kita.
Sungguh persahabatan yang memiliki kontak batin yang kuat dan tidak bisa dipisahkan oleh siapapun bahkan maut pun ...
SELESAI




0 komentar:
Posting Komentar